Imam syahid Hasan AlBanna mangatakan,
" Ada tiga hal yang seandainya ada dalam jiwa kita maka kita akan dibawa melangkah ke jalan kemuliaan dan kemenagan sebagaimana telah terjadi pada generasi Rasulullah saw, yaitu Keimanan yang sempurna, cinta, pengorbanan".
Keimanan Yang Sempurna
Bagi setiap muslim, keimanan dalah fondasi sekaligus ruh kehidupan. ia adalah nilai yang senantiasa menuntut perhatian utama. Belajar dari jejak sejarah kelompok manusia mulia, keimanan dalah koridor kemurnian amal, daya taha sekaligus sumber motivasi.
Keimanan ini membresihkan mereka dari keinginan apapunselain dakwah. Mereka telah mendengarkan seruan, " maka segeralah kembali kepada (mentaati) Allah,"(QS 51:50) Lalu bagaimanakah dengan kita sekalian?
Hari ini jargon-jargon perjuangan menuntut untuk mnjadi akhlak keseharian. Dapatkah kita bertahan terhadap semua ini dengan keimanan seadanya? Niscaya kita akan terseret arus dan bergabung dengan sampah-sampah kehidupan yang mengalir yang mengalir didalamnya.
Cinta
Kesatuan hati dan keterpautan jiwa telah ditetapakan menjadi salah satu kekuatan utama mengusung amanah mulia. Ketika ia merenggang, maka terburailah semua pilinan bekal perjuangan. Kualitas cinta selain sebagai wujud konkrit keimanan, juga menjadi ujian awal perjuangan.
Segudang fitnah dakwah menjebak kita melunturkan kekentalan cinta hanya menjadi simbolisasi formal yang kehilangan makna.
Generasi sahabat telah memberikan teladan akan fenomena cinta yang dipuji oleh Allah SWT "Dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan,"(QS.59:9)
Inilah warisan kemuliaan sebagai nikmat teladan sekaligus ujian yang menuntut pembuktian. Harus menjadi kesadaran besar dalam kehidupan hari ini adalah krisis cinta murni.
Keberadaan kita hanya akan menjadi salah satudari dua kemungkinan. memperparah kondisi tersebut atau mementaskan kehidupan baru berselimut cinta hakiki yang murni.
Pengorbanan
Pengorbanan adalah salah satu kata kunci perjuangan. Ia menjadi fakta yang dekat dalam kehidupan setiap profil mujahid.
Rasulullah saw mendidik para sahabat dengan conroh konkrit nilai-nilai pengorbanan. Bercerai dari keluarga, menggung beben kejiwaan yang tidak ringan, bahkan merelakan selembar nyawa yang didahului koyaknya jasad penopang.
Lalu bagaimanakah dengan kita hari ini. Saat baru saja kita lalui hari besar simbol pengorbanan. Apakah juga kita perbaharui komitmen perjuangan beserta konsekuensinya yang pasti kita jelang , ataukah agenda-agenda kita tetap kental dengan keterlenaan dan pengorbanan sebatas pengakuan. Akhirnya setiapa kita yang komitmen dengan ikrar perjuangan, tidak ada pilihan lain selain menghitung kembali semua bekal tersebut.
Sebanyak apa telah kita kumpulkan dalam diri kita. Apakah keterlibatan kita kita selama ini dalam barisan para pejuang adalah buah dari pemahaman, ataukah karena jebakan kondisi sesaat yang mengiring alur kehidupan kita.
Hari ini kita hidup alam dinamika yang berbeda. peran dan tuntutannya pun berbeda. Namun yang sama adalah kita berada diatas jalan yanga mulia. Kita tetap layak berada di sana selama bekalan berjuang ini ini menjadi agenda utama muhasabah kita.
Dengan kita berharap Allah membersihkan diri kita dati tendensi apapun selain Ma'rifatullah dan ukhuwah.
Wallahu a'lam bish showwab.
l Label: Bekal Perjalanan Panjang...